Beranda » Friendship » Not Just a Dream

Not Just a Dream

njadcover

Title : Not Just a Dream

Author : xiluhania

Casts : Choi Hansol (Hansol Vernon Chwe), Choi Hyunmi-OC

Length : Oneshot

Genre : Romantic, Comedy

Rating : General

A.N. : Enjoy this guys! 😀 ini ff pertamaku dengan cast Hansol Seventeen, my bias xD dibuat dalam jangka waktu dua hari saja nih .___. Soalnya pas lagi dapat feelnya jadi dibuatin XD  untuk ff exo ntar baru saya post yah. Masih galau dengan judulnya sih hehehehe ^^ (ff ini sudah pernah dipost di http://hellohyeonney.wordpress.com)

Not Just a Dream..

그냥 꿈이 아니..

 

Saranghae, Choi Hyunmi.”ujar laki-laki itu dengan lembut. Perempuan itu serasa melayang dan begitu banyaknya kupu-kupu yang beterbangan dalam perutnya.

Jinjjayo?”tanya perempuan itu sambil mengerjapkan matanya saking tak percaya dengan apa yang terjadi. Laki-laki itu mengangguk dan tersenyum hangat.

“Aku tidak pernah berbohong. Aku menyukaimu.”kata laki-laki itu lagi. Kata-katanya begitu manis didengar. Perempuan itu merasa ialah perempuan yang paling beruntung di dunia.

Would you be my girlfriend?”tanya laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya kepada perempuan tersebut. Tanpa berpikir panjang lagi perempuan itu menjawab, “Yes, I would, Choi Hansol.”

 

~~~*~~~

 

Matahari telah menyinari bumi dengan cahayanya, tiupan angin mulai terasa dan pagi itu begitu indah. Namun, kehangatan cahaya matahari serta kelembutan hembusan angin tidak memberikan sedikit pun reaksi seorang perempuan yang sedang tertidur di atas kasurnya yang empuk. Cahaya dan angin tidak dapat menembus gorden dan jendela kamarnya yang tertutup rapat. Meskipun bunyi alarm dari ponselnya berbunyi, aktivitasnya belum juga ia hentikan. Suara teriakan untuk membangunkannya seakan tidak ada gunanya.

Bunyi langkah kaki terdengar di sepanjang tangga. Langkah kaki itu berhenti di depan kamar dan ia perlahan membuka knop pintu. Ia menggeleng pelan melihat keadaan kamar sang perempuan dengan gemas. Ia pun berjalan dan membuka lebar gorden kuning yang menghambat rambatan cahaya sang surya. Dibukanya juga jendela sehingga hembusan angin masuk dan memberi kehangatan ketika bercampur dengan cahaya matahari. Perempuan itu sedikit menggeliat dan melepas selimut yang membungkus dirinya. Ia mengucak pelan matanya dan membuka matanya untuk melihat apa yang terjadi sekarang.

Betapa terkejutnya ketika ia melihat seorang laki-laki dengan baju seragam sekolah rapi beserta tas dan tersenyum manis padanya. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan berdiri menghadap laki-laki tadi.

“Kenapa kau bisa ada di sini? Kenapa tidak menunggu di bawah saja?”tanya perempuan itu dengan wajah memelas. Laki-laki itu tertawa kecil dan duduk di dekat jendela.

“Menunggu sampai puteri tidur bangun dari tidurnya?”tanya laki-laki itu dengan maksud sedikit menyindir. Perempuan itu mengembungkan pipinya yang merah itu dan duduk di samping sang laki-laki. Ia masih mengenakan baju tidurnya dengan motif polkadot warna-warni yang membuat laki-laki itu mengulum bibirnya tidak tahan untuk tertawa.

“Apa yang kau lihat, hah?”tanya perempuan itu dengan kesal. Laki-laki itu hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum lagi. Senyuman yang sangat manis dan hangat yang mampu melelehkan semua perempuan ketika melihatnya. Daya tarik laki-laki ini sangatlah kuat sehingga perempuan yang duduk di sampingnya itu juga terpikat oleh pesonanya.

“Melihat seorang Choi Hyunmi yang masih terlihat seperti anak bayi.”jawab laki-laki itu tanpa memandang perempuan bernama Hyunmi tersebut. Hyunmi mencibir dan memberi pukulan kecil untuk laki-laki yang disukainya itu. Pukulan kecil yang sangat berarti bagi keduanya. Laki-laki itu mendapat sebuah hadiah yang menurutnya manis dan sang perempuan, Hyunmi memberikan sebuah hadiah yang menurutnya juga manis.

“Aku sedang melihat seorang Choi Hansol yang terus tertawa sehingga ia terlihat seperti anak kecil.”balas Hyunmi. Laki-laki itu yang sering disapa Hansol terkekeh pelan dan mengacak rambut Hyunmi pelan. Darah Hyunmi mengalir semakin deras. Denyut nadinya pun berdenyut cepat dan jantungnya berdetak dengan tidak beraturan. Tangan Hansol menyentuh kepalanya dengan lembut yang membuatnya seperti sedang berada di dunia mimpi.

Choi Hansol. Laki-laki itu bersahabat dengannya sejak setahun yang lalu, ketika Hansol menjadi murid pindahan dari Amerika dan sekelas dengannya. Keduanya menjalin hubungan erat dan baik ketika tahu bahwa rumah mereka yang berdekatan. Selain letak rumah yang strategis, Hansol juga sering meminta Hyunmi untuk membantunya menyelesaikan soal matematika dan Hyunmi akan meminta Hansol untuk bahasa inggris.

Tetapi, ketika keduanya telah lulus dari bangku SMP dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, SMA, sifat dan sikap Hansol sedikit berubah. Hansol yang dulu sangat sering menjahili dan membohongi Hyunmi. Tetapi, Hansol yang sekarang menjadi Hansol yang lebih lembut dan lebih suka berkata jujur kepada Hyunmi sehingga selalu membuat Hyunmi seperti seorang puteri kerajaan di negeri dongeng yang dipuja serta dipuji.

“Kenapa kau melamun? Cepat pergi mandi dan bersiap. We’re almost late for school.”ujar Hansol dengan lembut. Ia lalu keluar dari kamar Hyunmi lalu menyentuh dan merasakan detak jantungnya yang tidak karuan ketika dirinya berada dekat dengan Hyunmi. Aneh.

 

***~***

 

Keadaan sekolah masih seperti pada umumnya. Sesak, penuh dan berisik. Semua siswa dan guru sedang berkumpul dan berbaur di lapangan luas. Semua orang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Mencari teman mereka, menceritakan hal-hal baru dan tertawa dengan lepas. Hansol dan Hyunmi menapakkan kaki mereka di lapangan luas itu dan memutuskan untuk berpencar. Hansol akan pergi bersama teman-temannya sementar Hyunmi akan pergi mencari teman-temannya juga.

Hansol dan Hyunmi berbeda kelas. Ketika tahu akan hal itu, keduanya merasa tidak rela untuk berpisah kelas. Entah ada hal apa yang membuat perasaan mereka seperti itu. Ketika Hyunmi akan pergi dan berbaur dengan seluruh manusia di sana, Hansol menahan lengan Hyunmi dengan tangannya itu. Hyunmi berbalik, menatap Hansol bingung.

“Ada apa?”tanya Hyunmi skeptis. Hansol melepaskan tangannya dari lengan Hyunmi lalu menggeleng.

Nothing. Aku hanya ingin mengatakan, take care. See you.”jawab Hansol dan berlari pergi duluan meninggalkan Hyunmi. Hyunmi kembali dilambungkan Hansol ke atas langit yang indah. Kata-kata Hansol terlalu manis dan suaranya membuat Hyunmi gugup. Tanpa sadar, sebuah ukiran senyum terbentuk di bibir manis Hyunmi.

Seketika Hyunmi mengingat mimpinya semalam. Ia bermimpi Hansol menyatakan perasaan padanya dan mimpi itu begitu indah. Terlalu indah untuk ia bayangkan. Tetapi, dengan cepat Hyunmi menggeleng kepalanya menepis khayalan itu. Don’t think anything like that!

But you make me more love you.

 

~~~*~~~

 

Jam sekolah telah usai dan halaman sekolah pun dibanjiri oleh para siswa yang hendak pulang untuk melepaskan kelelahan mereka di rumah. Begitu juga dengan Hyunmi yang bermaksud untuk pulang. Tetapi, ia mengingat Hansol. Ia selalu pulang bersama dengan Hansol. Malah Hansol yang sering menunggunya di depan kelasnya. Hyunmi pun memutuskan untuk mencari Hansol dan mengajak pulang bersama.

Hyunmi berjalan menyusuri koridor sekolah yang masih tampak beberapa siswa yang sedang melakukan tugas piket atau les tambahan. Hyunmi berhenti di depan kelas 10-2, kelas Hansol. Namun, keadaan kelas itu tidak menampakkan adanya seseorang di sana. Dengan putus asa, Hyunmi pun berbalik dan bermaksud pulang sendiri. Tetapi, sebuah tangan menahannya pergi.

“Kau mencariku?”tanya sebuah suara yang sudah Hyunmi hafal luar kepala dan dadanya bergemuruh hebat. Ia berbalik dan mendapati Hansol dengan tampang acak-acakan dan terlihat seperti anak berandalan.

“Kenapa kau begitu berantakan?”tanya Hyunmi dengan perasaan khawatir di dalam hatinya. Hansol hanya tersenyum lebar dan menggeleng dengan sangat manisnya sehingga membuat Hyunmi hampir pingsan dengan bodohnya di sana.

“Lalu?”tanya Hyunnmi lagi.

“Kwenchana. Tadi aku hanya ada sedikit urusan. Kajja! We’re going home now!”ujar Hansol dan menarik Hyunmi cepat-cepat pergi dari sekolah. Hyunmi hanya menurut dan mengikuti ke mana Hansol menariknya pergi.

Mereka berhenti berlari ketika sampai di gerbang sekolah. Keduanya saling menarik nafas yang memburu agar pernapasan mereka bisa stabil kembali. Hansol terlihat sibuk menoleh ke berbagai arah seperti orang yang sedang mencari sesuatu. Hyunmi tak tahan untuk terus bertanya pada Hansol. Selalu membuatnya penasaran.

“Kau ini kenapa? Sikapmu aneh sekali.”ujar Hyunmi berterus terang terhadap apa yang ia lihat dan pantau selama beberapa hari belakangan ini. Hansol tak mengindahkan pertanyaan dari Hyunmi. Ia masih sibuk entah melihat apa di belakang sana.

“Yaa! Choi Han—”

Hansol menarik Hyunmi dan mereka melanjutkan langkah seribu mereka. Hyunmi menoleh ke belakang ketika melihat ada tiga orang laki-laki dengan seragam yang sama sedang mengejar Hansol. Tidak, mereka berdua lebih tepatnya. Hyunmi mengerahkan seluruh tenaganya walau pun ia sudah capek berlari sedari tadi. Mereka saling berkejaran di sepanjang jalanan sehingga tanpa sengaja mereka terus menabrak orang-orang di jalanan. Hansol dan Hyunmi memasuki sebuah butik yang besar. Terlalu banyak orang di sana sehingga kemungkinan kecil anak-anak tadi berhasil menangkap mereka berdua. Hansol pun menarik Hyunmi ke dalam ruang ganti dan mengunci pint tersebut rapat-rapat.

Keduanya diam. Hanya terdengar deruan nafas dari mulut mereka masing-masing. Peluh membasahi pelipis dan leher mereka.

Deg.

Hansol dan Hyunmi berada dalam jarak yang sangat dekat sehingga jantung mereka mulai berdetak tidak beraturan. Mata Hansol menangkap manik mata Hyunmi yang entah menyiratkan apa. Jarak mereka semakin menipis.

“Maafkan aku membuatmu lelah.”ujar Hansol lembut. Hyunmi menelan ludahnya dengan paksa. Adegan yang telah tersirat di dalam pikirannya hilang entah ke mana. Ia berpikir dengan keyakinan bahwa Hansol akan menciumnya tetapi, itu semua hanya imajinasinya.

“Memangnya kau ada masalah dengan 3 laki-laki tadi? Bukankah itu senior kita?”tanya Hyunmi. Hansol tersenyum kecut dan bersandar di sebuah kaca besar.

“Sebenarnya, ada sedikit pertengkaran tadi.”jawab Hansol dengan menundukkan kepalanya. Hyunmi terkejut dan maju selangkah agar berhadapan dengan Hansol.

“Pertengkaran apa? Apa penyebabnya? Kau tak biasa terlibat perkelahian.”tanya Hyunmi lagi dengan kesal karena setahunya Hansol itu adalah anak yang baik dan tidak pernah berkelahi di sekolah. Namun, hal seperti ini terjadi wajar saja jika Hyunmi ingin tahu.

You.”ucap Hansol bergeming sekalipun. Hyunmi terdiam di tempatnya dan muncul tanda tanya besar di otaknya. Apakah maksud Hansol adalah dirinya sendiri? Ataukah bukan? Hansol berdiri tegap dan menatap Hyunmi yang sedang kebingungan karena jawaban singkat darinya. Hansol menghembuskan nafasnya dan memasukkan tangannya ke dalam saku celana.

“Salah satu senior tadi ingin agar aku menjauhimu. Ia sering melihat kita datang dan pulang sekolah bersama sehingga membuatnya cemburu. Karena kau adalah sahabatku, tidak mungkin aku menjauhimu. Maka dari itu mereka memukulku dan terjadilah perkelahian tadi.”jelas Hansol. Hyunmi tercengang mendengar setiap penjelasan yang keluar dari mulut Hansol.

“Sudahlah. Lupakan saja. Ayo kita keluar. Kita jangan jadi pengecut di sini.”ajak Hansol dan membuka pintu ruang ganti tersebut. Hansol keluar kemudian disusul Hyunmi yang menunduk dari belakangnya. Orang-orang melihat mereka dengan ekspresi terkejut dan keheranan. Apa yang dilakukan kedua anak muda itu di dalam ruang ganti tadi? Tetapi, orang –orang membungkam mulut mereka dan hanya melemparkan tatapan aneh.

“Kau dari sana rupanya.”ujar seseorang dari belakang mereka ketika mereka baru berjalan beberapa langkah. Hansol berbalik duluan, kemudian disusul Hyunmi.

“Doyoon sunbae?”ujar Hyunmi ketika melihat seniornya yang bernama Doyoon itu berada di depannya.

Jang Doyoon atau yang biasanya disapa Doyoon ini merupakan salah satu anak yang cukup populer di sekolah. Selain karena tampangnya yang mendukung, ia juga lihai dalam olahraga basket sehingga ia sangat digilai banyak perempuan. Hal ini mengundang sebuah pertanyaan bagi Hyunmi. Apa yang membuat seniornya ini menyukainya? Hyunmi rasa, ia tidak populer dan juga tidak terlalu spesial jika dibandingkan dengan yang lainnya.

“Kita belum selesaikan masalah kita berdua. Ya kan, Choi Hansol?”tanya Doyoon dengan senyuman menyeringai. Hansol mengepalkan tangannya kuat. Ingin sekali ia meninju Doyoon sekarang juga. Hyunmi maju selangkah dan berdiri berhadapan dengan Doyoon.

“Ada masalah apa antara sunbae dengan Hansol?”tanya Hyunmi dengan berani walau pun kakinya serasa ingin goyah ketika melihat tatapan membunuh dari Doyoon. Doyoon tersenyum tipis pada Hyunmi dan mengambil tangan Hyunmi lalu mengenggamnya. Hyunmi terkejut melihat tindakan Doyoon yang tiba-tiba itu. Sementara Hansol, ia menggeram dari belakang. Ada perasaan tidak suka ketika melihat Hyunmi disentuh oleh laki-laki lain seperti itu.

“Selama ini aku menyukaimu, Hyunmi. Maukah kau menjadi pacarku?”tanya Doyoon dengan penuh harap. Hyunmi terlihat tidak nyaman dengan beberapa orang yang sedang memerhatikannya dengan Doyoon seperti itu. hyunmi menggigit bibirnya dengan kebingungan.

Ia menyukai Hansol! Ia tidak boleh menerima cinta dari laki-laki manapun selain Hansol. Ingin sekali rasanya ia berbalik dan melihat ekspresi Hansol lalu bertanya apa yang harus ia lakukan. Hansol pun begitu. Ia berharap agar Hyunmi menolak Doyoon dan berbalik padanya, memeluknya serta mengatakan bahwa ia menyukainya.

“Maafkan aku sunbae. Aku sudah memiliki perasaan pada seseorang.”jawab Hyunmi dengan pelan. Seketika itu pun Doyoon melepaskan genggaman tangannya pada Hyunmi perlahan-lahan. Terlihat wajah Doyoon yang berubah sedih dan kecewa.

Mianhae, sunbae. Jeongmal mianhae.”ujar Hyunmi lagi. Doyoon mengendikkan bahunya.

“Ya, kwenchana. Terima kasih karena mau mendengarkan pengakuanku.”kata Doyoon dengan suaranya yang terdengar parau. Hyunmi menelan ludahnya dengan paksa. Doyoon hanya tersenyum kecut dan berjalan menghampiri Hansol di belakangnya. Hyunmi segera berbalik dan merasa waspada jika Doyoon akan memukul Hansol.

BUK!

Hansol munduk selangkah karena pukulan yang cukup keras dari Doyoon di rahan kanannya. Hansol memegang bekas pukulan itu dengan meringis. Doyoon tersenyum kecut padanya. Hansol ingin sekali membalas pukulan tersebut, tetapi ketika ia melihat senyuman Doyoon, ia merasa ada yang aneh.

“Itu pukulan selamat karena Hyunmi ternyata lebih memilihmu dari pada aku.”ujar Doyoon dan bejalan pergi disusul dengan dua orang temannya dari belakang. Setelah Doyoon hampir menghilang dari pandangan, Hyunmi menghampiri Hansol dengan khawatir.

Kwenchana?”tanya Hyunmi. Hansol tersenyum lalu meringis karena rahangnya yang sakit.

Kwenchana. Kajja, let’s go home. Hari sudah hampir gelap.”ajak Hansol dan Hyunmi hanya mengangguk dan mengekori Hansol dari belakang.

 

***~***

 

Kini mereka berdua telah berdiri di depan rumah Hyunmi. Hari sudah gelap dan hanya lampu jalan yang menerangi mereka berdua. Pikiran Hansol masih melayang tentang perkataan Doyoon tadi sore ketika meninjunya. Hyunmi lebih memilihnya daripada Doyoon? Apa maksudnya? Apakah Hyunmi menyukainya? Jika itu adalah fakta, Hansol merasa ada secercah kebahagiaan yang menyusupi dirinya. Hyunmi membuka pagar kecil rumahnya dan bermaksud untuk berpisah dengan Hansol pada malam itu. Dengan cepat Hansol menahannya.

“Waeyo?”tanya Hyunmi. Hansol terdiam sejenak, kemudian mendekat ke arah Hyunmi yang berbataskan pagar setinggi pinggang itu. Hansol mengambil tangan Hyunmi dan menggenggamnya.

Hyunmi kaget akan sikap Hansol yang tiba-tiba itu. Hyunmi merasakan kehangatan yang diberikan Hansol dari genggamannya itu. Mereka berdua terus bertahan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. “Hyunmi-ah,”panggil Hansol dengan lembut. Sebuah sensasi aneh menyusup dalam tubuh Hyunmi. Pertama kalinya Hansol memanggilnya dengan panggilan seperti itu serta suara berat yang begitu lembut. Hyunmi memandang Hansol yang sedang menatapnya. Jujur saja, Hyunmi tak dapat menghindari tatapan dingin dari mata biru milik Hansol itu. Tatapannya berbeda dan seolah memancarkan kehangatan di malam yang dingin itu.

“Belakangan ini aku merasakan sesuatu yang berbeda jika bersamamu. Apa kau menyadarinya? Aku bersikap lebih lembut dan jujur padamu. Aku sendiri bingung dan tak tahu mengapa aku bisa berubah seperti ini. Dan juga, jika berada di dekatmu, jantungku selalu berdegup lebih kencang dan darahku mengair lebih deras.”jelas Hansol. Hyunmi serasa ingin jatuh terbuai kata-kata Hansol yang begitu manis. Genggaman Hansol makin erat, ia menggenggam tangan Hyunmi dengan kedua tangannya.

“Aku kini menyadarinya bahwa ternyata aku menyukaimu.”lanjut Hansol dan menatap Hyunmi dengan sangat hangat. “Would you be my girlfriend?”tanya Hansol dengan penuh harap pada Hyunmi. Hyunmi terdiam sejenak dan kemudian menghela nafasnya. Ia merasa ini adalah mimpi semalamnya yang menjadi kenyataan. Hyunmi mengangkat tangan kirinya dan balas menggenggam tangan Hansol dengan penuh perasaan.

Yes, I would, Choi Hansol.”jawab Hyunmi dengan tatapannya yang menggambarkan kebahagiaan. Hansol membalas perasaan terpendamnya itu. Ia sangat berterimakasih dan bersyukur kepada Tuhan karena hari itu adalah hari terindah dalam hidupnya.

Hansol tersenyum lembut padanya dan mempersempit jarak antara mereka. Di bawah cahaya rembulan dan gemerlapan bintang, kedua insan itu menumpahkan rasa mereka melalui ciuman lembut.

I won’t forget this moment.”ujar Hansol. Hyunmi tersenyum dan membalas, “Me too.”

Kini, mimpi indah Hyunmi menjadi kenyataan, bukan sekedar bunga tidur saja. Hyunmi merasa ia sangat beruntung karena laki-laki bernama Choi Hansol itu menyukainya dan mencintainya. Hyunmi kini pun tahu bahwa ia tidak boleh terus bernaung dan tidur saja untuk terus melanjutkan mimpi indahnya, tetapi ia harus bangun dan mewujudkannya.

Thank you Choi Hansol, you’re so meant to me.

Hansol memeluk Hyunmi dengan perasaan tulusnya. Ia sudah menyadari bahwa ia memang menyukai Hyunmi. Ia juga harus berterima kasih kepada Doyoon yang telah membuatnya sadar.

I Love You.

 

~~~

Dream, Believe, Make it happen..

Dream as many as you can and believe that your dream is alive and then try to make it happen ..

 ~~~

Haiiii! Bagus ga ffnya? .__.

diRCL ya supaya author amatiran ini bisa belajar lebih banyak lagi T_T

gomawoooo~ /saranghae choi hansol/

Iklan

2 thoughts on “Not Just a Dream

    • hai eonnie, long time no see TT
      gomawo untuk commentnya 😀
      mending refreshing sambil liat wajah authornya (?) hahahaha .. gomawo lagi eonn ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s