Beranda » Friendship » Behind Your Mask [3rd Mask]

Behind Your Mask [3rd Mask]

Behind Your Mask [3rd Mask]

Gambar

Title : Behind Your Mask

Author : xiluhania

CP : @choikeylates

Main cast : Choi Siwon, Choi Sooyoung

Genre : Romantic, Comedy, Friendship

Length : Chaptered

Rating : PG-15

Disclaimer : Enjoy the 3rd part ^o^ Semoga fanfic ini lebih baik dari yang sebelum-sebelumnya J please RCL, Thanksss J

[!!!] TYPO EVERYWHERE!!

~***~

~PREVIEW~

Tanpa sadar, tangan Siwon berani menyelipkan rambut Sooyoung yang terjatuh menutupi wajahnya di belakang daun telinganya, lalu ia mengelus pelan pipi merah Sooyoung. Menurutnya, Sooyoung seribu kali lebih menarik dan menghibur daripada acara di televisi tadi.

“Aku harap tiga hari ini segera berakhir.”gumam Siwon dan tersenyum pada Sooyoung yang sedang terlelap.

~~~

East Coast, 17.00 KST

Kilatan cahaya dari kamera-kamera mulai menyilaukan mata. Karpet merah yang panjang siap manghantar para bintang terkenal untuk sampai di dalam gedung pelaksanaan award. Satu per satu bintang telah menapakkan kakinya di karpet merah itu dan berjalan diiringi sambutan meriah para penggemar serta netizen. Hampir setengah jam Tiffany berada di dalam van dan kini tiba saatnya untuk keluar dan menebarkan pesonanya pada semua orang yang ada di sana. Sepatu hak dengan glitter milik Tiffany terlihat dan kini Tiffany tersenyum pada semua orang di sana. Gaun emasnya yang terlihat elegan membaluti dirinya yang cantik itu. ia berjalan dengan anggunnya menyusuri karpet merah. Teriakan dan sahutan penggemar terdengar dan membuat TifFany merasa bangga akan  dirinya sendiri. Tiffany tiba di dalam gedung dan disambut dengan baik. Ia dipersilahkan duduk sambil menunggu acara sebenarnya mulai.  Tiffany mulai merasa bosan. Masih banyak artis di red carpet dan ia harus menunggu sampai acara mulai. Sungguh membosankan.

“Permisi, boleh saya duduk di sini?”tanya seseorang tiba-tiba. Tiffany sontak menoleh dan mendapati artis muda bernama Jung Yonghwa sedang tersenyum padanya. Tiffany berusaha mengontrol kegugupannya dan tersenyum kaku.

“Ya, tentu saja.”jawab Tiffany kemudian menatap lurus ke depan dalam diam. Yonghwa duduk di sampingnya juga dalam keheningan.

“Kau sudah daritadi?”tanya Yonghwa pada akhirnya. Tiffany terlihat kikuk.

“Ya, cukup lama.”jawab Tiffany singkat dan Yonghwa hanya mengangguk pelan, kemudian mengeluarkan gadget dari sakunya.

Sementara itu, Seohyun sedang sibuk di ruang ganti membantu para staff menyiapkan hal-hal penting untuk stage Tiffany sebentar malam. Kostum sudah tertata rapi dan kini tugasnya adalah mencari Tiffany. Ia keluar dari ruang ganti dan masuk ke dalam studio utama yang sudah disewa untuk acara award ini. Seohyun membungkuk dan berjalan menuju meja Tiffany.

“Tiffany, ketika kau keluar dari pintu 2, belok ke kanan dan,”Seohyun terdiam sebentar karena ia sedikit terkejut melihat orang yang duduk di sebelah Tiffany. Waktu serasa berhenti dan matanya menangkap manik mata milik orang itu. Yonghwa tersenyum kaku dan membungkuk pada Seohyun. Seohyun membalasnya dan mengalihkan pandangannya. Tiffany merasa bingung.

“Dan apa?”tanya Tiffany menyadarkan Seohyun. Seohyun kembali melanjutkan pembicaraannya dengan Tiffany tadi.

“Dan setelah itu ruang gantimu di pintu ketiga. Selamat menikmati acaramu.”lanjut Seohyun dan berjalan pergi keluar dari studio. Seohyun memegang dadanya. Degup jantung yang berdebar-debar itu masih terasa padahal itu sudah terjadi 10 menit yang lalu. Seohyun menghela napasnya dan berjalan ke ruang ganti Tiffany.

~~~

Drrtt… Drrtt..

Ponsel Sooyoung bergetar menandakan ada telepon masuk. Sooyoung merasa terganggu dan terpaksa bangun dari tidurnya yang lelap. Sooyoung mengucak matanya pelan dan menguap lebar. Ia meraih ponselnya dan membaca telepon keluar dari nomor yang tak ia kenali.

“Haish! Dasar pengganggu!”gerutu Sooyoung dan membanting ponselnya. Ia turun dari tempat tidurnya dan berjalan keluar dari kamarnya. Sooyoung menguap ketika menutup pintu dan mendapati Siwon yang sedang berkutat dengan laptop dan beberapa buku tebal di meja. Sooyoung hanya diam dan berjalan ke dapur. Ia mengambil sebotol air dingin dari kulkas dan meneguknya sampai habis. Sooyoung prihatin terhadap dapur yang terlihat seperti kandang ayam itu. Padahal baru ia rapikan tadi pagi, malamnya sudah kotor kembali. Dasar namja. Sooyoung pun membersihkan meja makan dan mencuci piring-piring kotor yang ditinggalkan saja di wastafel dan meja makan.

Hampir setengah jam Sooyoung bekerja dan ia menjadi lapar. Ia mengelus perutnya dan duduk di sofa dekat dengan Siwon. Sooyoung menyalakan televisi dan menontonnya dalam diam.

Kruyuk~

Bunyi dari perut Sooyoung terdengar dengan jelas ketika volume televisi dikecilkan. Sooyoung diam dengan perasaan malu. Ia menunduk. Siwon juga hanya diam dan beranjak dari duduknya.

“Aku keluar sebentar.”ujar Siwon dan pergi. Sooyoung pun memeluk bantal di sampingnya dengan erat sambil memukul kepalanya. “Haish, paboya!! Kenapa bisa memalukan seperti tadi?!”gerutu Sooyoung pada dirinya sendiri.

Ternyata Siwon sedang menguping dari balik pintu. Siwon tersenyum sendiri membayangkan wajah lucu Sooyoung yang sedang menggerutu sebal. Siwon berjalan dengan perasaan senang. Ia berniat untuk membelikan Sooyoung makanan karena mendengar suara perut Sooyoung yang menggelegar tadi.

“Ia selalu saja lucu.”gumam Siwon pelan.

~~~

Sooyoung sudah tidak tahan untuk berbicara pada Siwon. Bagaimana bisa Siwon kini sedang melahap makan malamnya dengan nikmat sementara Sooyoung sedang menontonnya dengan kelaparan yang semakin menjadi-jadi. Sooyoung sedang memaki dirinya sendiri dalam hati. Bodohnya dia membuat perjanjian tanpa memikirkan akibat-akibat yang akan terjadi. Ia sedang krisis karena ayah dan ibunya yang sedang sibuk sehingga lupa mengiriminya uang dan berjani akan mengirim uang besok lusa.

Hening.

“Ah, ahjumma itu sangat pandai memasak. Bagaimana bisa daging ini enak sekali?”Siwon bermonolog dengan maksud memanas-manasi Sooyoung. Siwon sudah menyisakan dua kantong makanan untuk Sooyoung yang ia simpan di balik punggungnya. Siwon hanya bisa menahan tawanya ketika Sooyoung melampiaskan emosinya pada remote televisi yang ia tekan dengan sembarangan. Siwon tidak akan memberikan makanan sebelum Sooyoung meminta padanya.

Klik.

Televisi dimatikan dan Sooyoung berjalan ke arah dapur. Siwon menunggu Sooyoung kembali dengan apa yang telah ia lakukan. Sooyoung pun keluar dengan membawa sepasang sumpit di tangannya. Siwon bingung dengan apa yang akan dilakukan yeoja itu. Sooyoung duduk bersila di depan Siwon dengan wajah cemberut.

“Bolehkah aku meminta makananmu?”tanya Sooyoung tanpa memandang Siwon sedikitpun. Siwon tertawa dalam hatinya dan berkata ‘aku menang, Choi Sooyoung’. Siwon berhenti makan dan meletakkan sumpitnya di atas meja.

“Mworago?”tanya Siwon. Sooyoung memandang Siwon dengan wajah kesal.

“Aku memintamu untuk berbagi makanan denganku.”ulang Sooyoung dengan nada kesal. Siwon tersenyum dan terkekeh pelan. “Mwo? Begitukan cara orang meminta makanan?”tanya Siwon. Sooyoung menghembuskan napasnya menahan amarahnya. Ia sudah tahu pasti beginilah resikonya.

“Choi Siwon, aku memintamu untuk berbagi makanan denganku. jebahl.”ulang Sooyoung untuk kedua kalinya dengan wajah memelas. Siwon tertawa dengan keras sehingga Sooyoung merasa bingung sekaligus malu.

“Kau yang membuat perjanjian untuk tidak berbicara satu sama lain, tapi kenapa sekarang kau yang memulai percakapan denganku, Mrs. Choi?”ejek Siwon. Pipi Sooyoung memerah dan ia mengembungkan pipinya. “Aku tahu, maka dari itu perjanjian itu batal.”ujar Sooyoung dengan nada kecil. Sooyoung merasa sekarang ia kena batunya. Ingin rasanya ia menggelamkan dirinya di laut agar tidak akan lagi melihat namja di depannya itu yang sedang menertawakannya.

“Hahaha, tapi tidak. Aku tidak akan membagi makananku padamu. Aku ini tipe orang yang taat peraturan, nona.”

Sooyoung mati kutu dan hanya diam saja. Ia merasa bahwa namja ini sangatlah menyebalkan, bahkan lebih menyebalkan dari temannya atau saudaranya. Sooyoung dengan cepat merebut makanan Siwon dan memakannya dengan lahap. Siwon melihat itu hanya tertawa dan mengambil makanan baru yang sebenarnya untuk Sooyoung.

“Ini, ambil saja yang ini. Aku sudah sengaja membelikannya untukmu.”lanjut Siwon sambil menyodorkan dua bungkus plastik berisi makanan. Sooyoung berhenti makan dan menatap Siwon. Ia mangambil bungkusan itu.

“Ini untukku?”tanya Sooyoung. Siwon mengangguk. Sooyoung pun tersenyum dan membuka bungkusan tersebut. “Gomawo.”lanjutnya. Siwon merasa bahagia karena ia berhasil membatalkan perjanjian yang dibuat Sooyoung itu.

“Wajahmu tadi sungguh jelek.”ejek Siwon sambil kembali melahap makanannya. Sooyoung mengunyah makanannya pelan dan menatap Siwon dengan kesal.

“Shikeureo!”bentak Sooyoung. Siwon sungguh gemas melihat tingkah Sooyoung yang begitu lucu dan menggemaskan.

“Dan satu lagi, apa maksudmu memanggilku Mrs. Choi tadi, huh?”tanya Sooyoung galak.

“Sebentar lagi kau akan resmi menjadi pacarku, lalu menjadi istriku. Maka aku memberimu gelar Mrs. Choi.”jawab Siwon dengan penuh percaya diri. Sooyoung yang mendengar itu hanya diam. Perasaan aneh menyelusup masuk ke dalam dirinya.

~~~

Koridor itu nampak sepi. Acara sudah berakhir dan hanya tersisa beberapa staff yang masih sibuk merapikan setting panggung dan masih banyak pekerjaan lainnya. Seohyun berdiri sendirian di koridor tersebut sambil bersender di dinding.

“Baguslah kalau begitu. Jangan lupa buatkan ibu bubur, ya.”pesan Seohyun pada adik sepupunya yang ada di rumah. “Oh ya, Lami, mungkin beberapa hari ini eonnie belum bisa pulang ke rumah. Kau tahu kan betapa sibuknya Tiffany, begitu pun eonnie juga akan berlipat ganda sibuknya.”lanjut Seohyun.

“Maka dari itu, tolong jaga ibu baik-baik ya. Kalau kau pergi ke sekolah, selalu buatkan bubur untuk ibu di pagi harinya. Titipkan salam untuk ibu. Anyeong.”pesan Seohyun lagi dan memutuskan sambungan teleponnya. Seohyun menghembuskan napasnya berat. Ia merasa belakangan ini ia terlalu banyak pekerjaan sampai-sampai ibunya yang sedang sakit pun tidak bisa ia jenguk. Ia merasa gagal menjadi seorang putri yang berbakti pada ibunya.

Seohyun memutuskan untuk kembali ke ruang ganti Tiffany untuk mengambil tasnya dan kembali ke perusahaan menyusul Tiffany yang sudah duluan sejam yang lalu. Namun, tiba-tiba ia berpapasan dengan Yonghwa di jalannya. Seohyun terlihat tegang melihat Yonghwa yang kini berdiri di hadapannya. Hening.

“Annyeong.”sapa Yonghwa seramah mungkin namun hanya dijawab sebuah senyuman kaku dari Seohyun. Seohyun menunduk dan berjalan melewati Yonghwa yang masih berdiri di tempatnya.

“Chankaman!”seru Yonghwa pada Seohyun. Seohyun berhenti dan mengigit bibirnya. Ia tidak berbalik. Ia terus bergeming pada posisinya. Yonghwa mendekati Seohyun dan kini berdiri tepat di belakang Seohyun.

“Ehm, kau mau pulang?”tanya Yonghwa pelan. Seohyun terus diam untuk beberapa saat lalu berbalik menghadap Yonghwa. “Ne.”jawab Seohyun singkat.

“Kalau begitu, mau pulang bersama?”tawar Yonghwa. Seohyun terdiam kembali. Ia terus menunduk, tak berani menatap Yonghwa di hadapannya. Yonghwa terlihat was-was menunggu jawaban yang akan keluar dari bibir Seohyun.

“Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri. Lagipula, aku masih mampir ke perusahaan dulu. Terima kasih.”tolak Seohyun dan berjalan pergi meninggalkan Yonghwa yang belum berkata-kata. Yonghwa hanya bisa menghembuskan napasnya berat dengan penuh penyesalan.

“Kenapa waktu begitu cepat membuatmu berubah.”gumam Yonghwa.

~~~

Seohyun bergegas menuju ke tempat parkir yang di mana tersisa 5 mobil di sana. Ia yakin mobil-mobil itu adalah mobil miliknya dan para staff yang masih bekerja. Seohyun mengeluarkan kunci mobilnya dan membuka pintu mobil lalu masuk ke dalamnya. Terlihat dua orang staff yeoja yang melintas di depan mobil Seohyun sambil mengucapkan salam.

“Ah, Seohyun-ssi, sepertinya ban mobilmu kempes.”ujar seorang staff dengan rambut pirang sebahu. “Ah, jinjja?” Seohyun terkejut dan turun dari mobilnya untuk melihat keadaan ban mobilnya yang malang sama seperti nasibnya kini, malang. Seohyun menggerutu sebal. Kenapa hari ini ia bisa diperhadapkan dengan berbagai macam persoalan dari sepele hingga aneh seperti ini?

“Mau kupanggilkan staff untuk membantu?”tawar staff yang satunya yang memakai rok hitam. Belum sempat Seohyun menjawab, seseorang telah memotong pembicaraan itu.

“Tidak perlu. Seohyun akan pulang bersamaku. Terima kasih.”sahut suara itu dari belakang Seohyun.

“Ah, Yonghwa-ssi. Baiklah, hati-hati di jalan.”ujar kedua staff tersebut dan berjalan pergi. Seohyun masih tercengang mendengar nama ‘Yonghwa’ yang dilontarkan kedua staff tadi. Ia tidak berani berbalik sampai Yonghwa menghampirinya.

“Sepertinya, kau harus pulang bersamaku.”ujar Yonghwa hati-hati.

“Ani, aku bisa pulang dengan taksi saja.”tolak Seohyun untuk sekian kalinya. Yonghwa merasa hatinya yang kecewa mendengar tolakan Seohyun.

“Kau yakin akan pulang dengan taksi dari pantai timur ke Seoul ketika sudah jam 12 malam seperti ini?”tanya Yonghwa. Seohyun terdiam. Sebenarnya, ia tidak berani mengambil tindakan tersebut. Itu sangat beresiko, apalagi jarak pantai timur dengan Seoul yang cukup jauh dan ditempuh tengah malam. Bisa-bisa ia pulang dengan hanya membawa nama, tanpa badan.

Tak ada penolakan, namun tak ada juga penerimaan. Yonghwa masuk ke dalam mobilnya dan menyuruh Seohyun untuk masuk. Seohyun masih ragu untuk naik. Entah mengapa, ia juga tidak tahu.

“Aku tidak memaksa, tapi aku hanya tidak suka melihat yeoja sendirian di tengah malam.”jelas Yonghwa. Akhirnya dengan bingung, Seohyun masuk ke dalam mobil Yonghwa dalam diam.

Suasana mobil hening seperti tidak ada kehidupan di sana. Hanya terdengar hembusan napas dari kedua makhluk itu. Yonghwa merasa ragu untuk memulai pembicaraan, ia takut nanti ada kata-katanya yang mungkin membuat Seohyun tersinggung dan sebagainya. Sementara Seohyun sedang memohon agar ia bisa cepat-cepat sampai. Ia sungguh membenci situasi canggung seperti ini.

Belum jauh dari Pantai Timur terjadi kemacetan parah yang menyebabkan berpuluh kendaraan mendominasi malam yang sepi itu dengan bunyi klakson di mana-mana. Yonghwa menghembuskan napasnya kesal. Mengapa harus macet? Tetapi, ia mansyukuri juga satu hal, ia bisa bersama Seohyun lebih lama. Tetapi, Seohyun sebaliknya. Ia gelisah dalam hatinya karena kemacetan ini. Ia sungguh kaku jika berdua saja dengan Yonghwa dan waktu akan berlipat ganda lebih lama dari yang ia bayangkan.

“Ehem,”Yonghwa berpura-pura berdeham keras sehingga Seohyun memperbaiki posisi duduknya yang sebenarnya tidak ada yang mengganggu. Seohyun hanya mengumpat dalam hatinya. Sial!

“Ehm, kau sudah makan malam?”tanya Yonghwa mencoba membuka obrolan ringan antar kecanggungan mereka. Seohyun menoleh sekilas lalu kembali menatap lurus ke depan.

“Sudah.”jawab Seohyun bebrohong. Ia sedang berpikir apa yang terjadi jika ia menjawab belum, mungkin saja Yonghwa akan mengajaknya makan malam dan itu berarti waktunya bersama Yonghwa akan lebih lebih lama lagi.

“Oh, baguslah kalau begitu.”gumam Yonghwa pelan yang hampir-hampir tidak didengar Seohyun. Tangan Seohyun menjadi dingin dan berkeringat. Udara dalam mobil seakan-akan habis dan AC seperti tidak lagi berfungsi. Seohyun hanya diam menahannya dan menatap keluar jendela.

Yonghwa pun juga diam. Ia hanya menyetir mobil dalam diam. Ia melirik Seohyun yang sedang menatap keluar jendela. Wajah Seohyun yang begitu tenang, seakan memberikan kembali kehangatan yang dulu pernah ia dapat dari Seohyun sendiri. Seohyun yang merasa sedang diperhatikan pun menoleh ke arah Yonghwa dan bodohnya Yonghwa tertangkap basah. Yonghwa tersenyum kikuk dan kembali menatap lurus ke depan. Begitu pula dengan Seohyun. Ia jadi merasa tidak enak dengan situasi ini. Hampir setengah jam mereka habiskan dalam diam dan akhirnya jalanan kembali stabil sehingga Yonghwa mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan 100 km/jam. Bulir-bulir keringat mulai berjatuhan dari pelipis Seohyun. Ia meramas kuat rok hitam yang ia kenakan. Seohyun trauma terhadap kecepatan mobil yang melaju di atas 60 km/jam dan seharusnya Yonghwa tahu akan hal itu. Apakah secepat itu Yonghwa melupakan trauma Seohyun tersebut?

Seohyun menggigit bibirnya takut. Bayangan buruk itu kembali menghantui kepalanya. Malam. Jembatan. Darah. Jeritan. Gelap. Seohyun berusaha semampunya untuk menghilangkan segala bayangan buruk tersebut namun yang bayangan itu makin merasuki pikirannya. Matanya terpejam dengan kuat. Napasnya tersengal-sengal. Yonghwa, kumohon hentikan! Apa kau sudah melupakan hal ini?

Yonghwa melirik Seohyun sekilas. Ia terdiam untuk beberapa saat melihat Seohyun yang nampak tidak nyaman dan menunduk. Oh tidak! Yonghwa menepikan mobilnya dan berhenti.

“S-seohyun-ah, kau baik-baik saja?”tanya Yonghwa sambil memegang pundak Seohyun. Seohyun mencoba mengontrol napasnya untuk tenang kembali. Ketakutan dan bayangan menyeramkan itu perlahan hilang dari benaknya. Ia nampak lemas dan bersandar pasrah pada jok. Yonghwa makin khawatir ketika melihat wajah pucat Seohyun yang dibasahi keringat.

“Seohyun-ah,”panggil Yonghwa. Seohyun terkulai lemas dan tak sadarkan diri. Yonghwa pun makin panik dan mengguncang tubuh Seohyun. Tak ada respon dan Seohyun kini pingsan. Dengan segera, Yonghwa pun membawa Seohyun ke rumah sakit terdekat. Maafkan aku, Seohyun-ah, aku sungguh tidak mengingat traumamu.

 

~~~

Sooyoung sedang mencuci piring dan gelas yang tadi dipakainya bersama Siwon untuk makan malam. Sementara Siwon sudah masuk ke dalam kamarnya. Mungkin dia sudah tidur. Sooyoung mengeringkan tangannya menggunakan tisu dan duduk di ruang televisi sambil menonton acara musik.

Tiba-tiba, mata Sooyoung menangkap sesuatu di meja yang ia dan Siwon pakai untuk makan malam tadi. Sooyoung mengambil ponsel yang terselip di makalah milik Siwon yang ia biarkan begitu saja di meja sebelum ia pergi membeli makan. Entah setan apa yang merasuki perempuan bertubuh ramping itu sehingga ia dengan beraninya mencoba membuka ponsel Siwon. Kode? Haish!

Sooyoung menggerutu kesal karena ponsel Siwon memakai kode berpola. Sooyoung mencoba memutar otaknya. Ayolah, apakah itu S? Pikiran Sooyoung mulai melantur. Ia mencoba pola-pola huruf seperti C dan S tapi tidak berhasil. Sooyoung pun mencoba membuat pola dengan huruf S terbalik. Tada! Ponsel Siwon berhasil terbuka dan Sooyoung tersenyum penuh kemenangan. Dasar bodoh.

Sooyoung mencoba membuka hal sederhana seperti galeri foto dan hanya foto-foto membosankan yang tampak di sana. Hanya ada folder khusus untuk bola kaki dan oh, dia seorang yang taat pada agamanya. Ada folder untuk ayat-ayat alkitab di sana. Merasa bosan dengan melihat-lihat galeri foto Siwon, Sooyoung mencoba membuka situs jejaring sosial milik pria itu. Melanggar privasi? Memang. Membuat penasaran? Memang juga. Sooyoung membuka sebuah situs yang lebih mirip dengan facebook. Sooyoung tahu bagaimana untuk membuat akun dan bermain di dalam situs ini, tetapi Sooyoung terlalu malas untuk itu. Sooyoung membuka dan melihat foto terakhir yang diunggah Siwon adalah tiga tahun yang lalu.

Tiga tahun yang lalu?! Yang benar saja. Sooyoung hanya menggeleng kepalanya terhadap hal itu. Sudahlah, ini sudah melewati apa yang seharusnya. Sooyoung berniat meletakkan kembali ponsel Siwon. Tetapi, sebuah telepon masuk membuat Sooyoung menjadi bingung.

Panggilan dari Shim Changmin.

Shim Changmin? Nama itu tidak terasa asing di telinga Sooyoung. Ah! Changmin adalah salah satu pria yang cukup populer di kampus. Semua mahasiswa yang terlibat dalam ‘band’ jelas sangat terkenal. Mungkin, band dianggap keren atau apalah. Sooyoung mengambil ponsel Siwon dan berniat mengembalikannya pada Siwon. Siapa tahu telepon tadi itu penting.

Tok.. tok..

Sooyoung mengetuk pintu namun tidak ada jawaban. Kemudian, Sooyoung mencoba lagi mengetuk pintu namun nihil. Sooyoung menjadi malas.

“Hey, Choi Siwon! Tadi ada panggilan dari Shim Changmin!”teriak Sooyoung. Satu menit adalah waktu yang lama untuk menunggu Siwon membukakan pintu. Sooyoung menyerah dan kembali duduk di sana. Tiba-tiba, ada sebuah pesan dari Changmin yang masuk. Apa harus aku membukanya?

Sooyoung pun membuka pesan tersebut dan membacanya dengan ekspresi tidak menentu. Terkejut? Bingung? Atau senang? Entahlah.

Cklek.

Pintu terbuka dan Siwon dan Sooyoung terdiam juga memandang satu sama lain. Siwon memergoki Sooyoung yang sedang berdiri seperti orang bodoh dengan ekspresi yang bercampur aduk. Dan tak lupa, Sooyoung sedang memegang ponsel Siwon yang tertera jelas pesan dari Changmin.

Deg.

-TO BE CONTINUED-

 

From : Shim Changmin

Mian, baru membalas pesanmu yang tadi siang. Hey, besok ulang tahun Choi Sooyoung, kan? Apakah aku harus membelikannya hadiah atau semacamnya? Hehe, dia cantik sekali tadi.

~~~

hello readers tercintaaaaaaaa

sudah lama sekali sejak aku meninggalkan ffku yang terbengkalai T-T

semoga ini bisa membayar setengah dari yg seharusnya /?

enjoy this and comment 🙂

Iklan

4 thoughts on “Behind Your Mask [3rd Mask]

    • Haii, iya nnti di next chapter dibanyakin kok 🙂
      Part ini emang aku sengaja bahasin yongseo dulu supaya nnti kalo di part2 selanjutnya pas ngebahas yongseo itungak bikin bingung 🙂
      Gomawo ya udah komen , jeep waiting for the next part ya 🙂

  1. hahahaha lucu parahhhh…kasian banget sooyoung dikerjain gitu sama siwon iih jail deh… untung aja siwon baik hati hahaha soowon is the best 4ever dehhh chingu 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s